Kemdag Apresiasi Polri & DPR Berantas Kartel Bawang Putih

Kemdag Apresiasi Polri & DPR Berantas Kartel Bawang Putih

Bawang putih.(cw3)

Bawang putih.(cw3)

JAKARTA – Direktur Tertib Niaga Ditjen Perlindungan Konsumen & Tertib Niaga, Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono, mengapresiasi Polri yang membongkar gudang penyimpanan bawang putih selundupan asal Cina.

“Kami apresiasi Polri sebagai bagian dari tim Satgas Pangan. Artinya, pemerintah tidak main-main dalam memberantas pangan impor ilegal, termasuk kartel bawang putih,” ujarnya di Jakarta, Selasa (17/4/2018).

Karenanya ia juga sepemahaman dengan desakan Komisi III DPR, yang disuarakan anggotanya Arteria Dahlan agar membubarkan kartel bawang putih terindikasi dilakukan oleh 13 perusahaan dan mengusulkan pelaku dijerat pidana dengan pasal berlapis termasuk penyelundup bawang putih.

Sebelumnya, anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan menyesalkan ulah kartel yang meresahkan masyarakat diduga dilakukan oleh 13 penerima Surat Persetujuan Impor (SPI).

Menyusul, katanya, Bareskrim Polri menyegel gudang Usaha Dagang Anton & UD Bumi di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, setelah ketahuan menyelundupkan bawang putih dari Cina dengan menyita 11,62 ton dari total 581 ton sudah dijual.

Politikus PDIP itu pun mempertanyakan pengawasan Kemendag, Bea Cukai, Polres Pelabuhan dan Satgas Pangan terhadap lolosnya bawang putih selundupan yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“Polri menemukan PT Citra Gemini Mulya sebagai cap pengimpor tidak termasuk ke-13 penerima SPI Kemendag, yang tidak dilengkapi dokumen resmi alias penyelundup.”

Untuk itu ia mendesak polisi tegas menerapkan pasal berlapis terhadap kartel dan penyelundup bawang putih tersebut. Setidaknya menjerat pakai UU No.13/2010, UU No.16/1992, UU No.8/1999 dan UU No.7/2014.

Ke-13 importir penerima SPI untuk 125.984 ton sejak Ferbruari 2018, kata Arteria Dahlan, adalah Pertani, Revi Makmur Sentosa, Sumber Alam Jaya Prima, Sumber Alam Jaya Perkasa, Tunas Sumber Rejeki, Setia Maju Sejahtera Abadi, Bumi Citra Bersama, Exindokarsa Agung, Fermase Inti Mulia, Maju Jaya Niagatama, Haniori dan Anugerah Makmur Sentosa.

Harga selangit

Dampak kartel itu menyebabkan harga bawang putih tetap bertahan kisaran RP 40ribu hingga Rp 90 ribu sekilogram di pasar dengan modus mengeluarkan bertahap barang hortikultura impor itu di Jabodetabek.

Sri Maryatun Chairul (55), pedagang pangan grosir di Pasar Induk Kramatjati, mengatakan bawang putih itu sudah menghilang dari pasaran.

“Sampai-sampai kami menerima harga bawang putih lebih mahal dibanding kelompok mereka, sampai Rp 40ribu, yang penting langganan kami tidak kabur,” ujarnya seraya menyebut kelompok itu diketuai berinisial “P” yang mengaku importir.

Padahal, sambung Arteria Dahlan, hasil investigasinya harga bawang putih di Cina senilai modal 500 dolar AS atau Rp 8.500/kg ditambah transportasi Rp 1.000 sampai gudang di Indonesia maka harga normalnya Rp10 ribu/kg, sedangkan harga eceran tertinggi (HET) ditetapkan Rp25 ribu/Kg atau untung Rp15 ribu/kg. Dijual seharga Rp25 ribu/kg atau keuntungan Rp15 ribu saja bila dikalikan dengan jumlah kuota impor bawang putih tahun 2018 sebanyak 125.984 ton importir sudah untung 3,75 triliun. Apalagi jika dijual Rp40 ribu sampai Rp90 ribu per kg maka keuntungannya mencapai Rp10 triliun. (rinaldi/tri)

Sumber :Pos Kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com