Terlalu Sulit, Praktisi Pendidikan Minta UNBK Dievaluasi

Terlalu Sulit, Praktisi Pendidikan Minta UNBK Dievaluasi

Terlalu Sulit, Praktisi Pendidikan Minta UNBK Dievaluasi

Koran Sindo

loading…
Terlalu Sulit, Praktisi Pendidikan Minta UNBK Dievaluasi
Siswa mengeluhkan soal UNBK yang dinilai terlalu sulit. FOTO/ILUSTRASI/DOK.SINDOphoto
A+ A-
JAKARTA – Peserta Ujian Nasional (UN) memprotes soal UN yang dinilai terlalu sulit. Kemendikbud berdalih soal itu termasuk kategori soal high order thinking skill (HOTS).

Peserta UN pekan kemarin menyerbu Twitter dan Instagram resmi Kemendikbud yang memprotes sulitnya soal ujian yang diberikan terutama di bidang Matematika, Fisika, dan Kimia. Mereka bilang soal yang diberikan berbeda dengan kisi-kisi yang dipelajari. Bahkan banyak yang memprotes mengapa soal UN yang diberikan setara dengan soal Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Direktur Sekolah Global Sevilla Robertinus Budi Setiono menjelaskan, seperti protes yang ramai di dunia maya, para siswanya memang melaporkan bahwa soal Fisika, Kimia, Matematika itu memang di luar soal yang mereka latih saat tryout. Dia mengatakan, ada kekhawatiran nilai yang akan diterima siswanya mengalami penurunan. “Kalau dilihat keluhannya, iya lah pasti (ada penurunan) meski memang tidak akan jeblok,” katanya di Jakarta.

Masalah lain yang dilaporkan siswanya juga soal mata pelajaran Bahasa Inggris. Soal itu menyajikan pertanyaan empat penyanyi Indonesia dan pertanyaannya adalah mana penyanyi yang berambut cokelat, sementara naskah soal tersebut tidak dicetak berwarna, melainkan hitam-putih. “Soal itu sangat membingungkan siswa sebab soal dicetak hitam-putih, sementara pertanyaannya adalah mana penyanyi berambut cokelat,” ucap Robert.

Menurut Robert, ada delapan komputer yang pada saat UNBK tidak bisa dibuka karena masalah koneksi. Namun, selang lima menit masalah bisa diatasi. Meski mengakui masih ada persoalan di UNBK, dia menilai UNBK lebih efektif, irit, dan meminimalisasi kebocoran. Dia meyakini target 100% UNBK tahun depan bisa terwujud asalkan pemerintah bisa membiayai infrastrukturnya.

Robert juga meminta pemerintah mengevaluasi konten soal ujiannya misalkan soal yang mempertanyakan warna rambut itu dihilangkan saja. Sekolahnya yang berstatus satuan pendidikan kerjasama (SPK) atau yang dulu dikenal dengan RSBI memakai standar Cambridge yang terbiasa dengan soal cerita.

“Kami terbiasa dengan soal cerita. Kalau di Indonesia, kan tidak. Sekarang pemerintah harus membuat penyajian soal cerita yang bagus,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, Kemendikbud akan melakukan evaluasi untuk menanggapi keluhan siswa yang menganggap soal tahun ini terbilang lebih sulit dari tahun lalu. Evaluasi dilakukan agar pelaksanaan UN dari tahun ke tahun semakin baik. “Ya (Kemendikbud akan lakukan evaluasi). Ada atau tidak ada keluhan evaluasi pasti dilakukan,” katanya kepada KORAN SINDO, Minggu (15/4/2018).

(amm)

sumber:Sindonews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com